Sahabatku



Haay shabat … apa kau masih mengingatku shob? Jika kau melontarkan pertanyaan sepertu padaku, aku akan menjawab: “Masih. Selalu.” Tak pernah satu hari pun kulewatkan tanpa mengingatmu. Tak pernah sekali pun tanpa mencemaskanmu, memikirkan apa kau baik-baik saja di sana?? . Aku tak peduli jika kau benar-benar sudah melupakanku. Sungguh. Aku tak menuntutmu untuk terus mengingatku. Seorang sahabat tidak pernah menuntut apa pun, kan?

Tapi aku tidak ingat apa saja yang pernah kita bicarakan, hal apa saja yang pernah kita debatkan. Aku hanya ingat, berbicara denganmu, tentang hal apa pun, rasanya sangat menyenangkan. Aku tidak tahu banyak tentangmu karena kita tak pernah berbicara banyak tentang itu. Kau hanya menguraikan mimpimu, harapan yang ingin kauwujudkan dalam hidupmu. Dan harapanmu sesederhana milikku. Kita hanya ingin bahagia.

Kau ingat? Kau dan aku berawal dari sebuah puisi. Saat itu aku hanya berusaha memahami apa yang kaumaksudkan. Entah dengan tujuan apa. Aku merasa tertarik dengan apa yang kaurasakan dan bagaimana kau mengungkapkan semua itu. Lalu kau mengajakku memahami banyak perasaan dengan tidak terpaku pada sudut pandangku saja. Kita sama-sama berusaha menyelami apa yang kita rasakan.

Tapi sayangnya, kau hanyalah maya. Kau terlalu maya untuk bisa bertahan dalam dunia nyataku. Tidak. Mungkin kau memang tidak pernah ingin masuk ke duniaku. Kau benar-benar maya. Jangankan menyentuh duniamu, membayangkanmu saja aku tak mampu. Takkan mungkin bagiku untuk itu.

Kau maya. Kau sahabatku. Dan aku menyukaimu. Bodoh memang, menyukai bayangan yang bahkan tak jelas bagaimana rupanya. Hahaha.

Baiklah, Sahabatku, mungkin sekarang kau memang sudah tak mengingatku lagi. Tak apa apa. Sungguh. Aku menerimanya dengan perasaan yang baik. Yang perlu kautahu, aku masih sahabatmu. Masih. Sekarang dan sampai kapan pun. Terimakasih sudah pernah menganggapku sebagai seorang sahabat. Terimakasih banyak.. :)

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates