Memperbaiki Masa Depan



Gelap sudah semua. Tiba-tiba gelap sekitika . Tidak ada penerang apa pun di kamarku ini yang kecil. Jeritku tertahan tahan. Dan aku membuang napas dengan sekeras-kerasnya. Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh, tidak ada gunanya!, umpatku dengan kesal dalam hati :/.

Aku membenamkan kepalaku ke bantal yang sedari tadi ada di pangkuanku. Gelap ini terasa menyesakkan bagiku. Aku merasa berada di tempat yang asing banget. Hanya ada diriku dan semua kebingungan yang saat ini menghinggapiku. Aku merasa kosong. Sungguh. Aneh, pikirku. Padahal sejak tadi pikiranku dipenuhi dengan banyak hal sampai-sampai membuatku ingin meledakkan kepalaku. Oh, tidak, aku masih sayang pada diriku. Kalau begitu, aku ingin tidur saja rasanya. Selalu deh, di saat sedang terdesak seperti ini dengan ketakutan yang menggunung terhadap apa yang akan terjadi, aku selalu ingin tidur. Tidur dan terbangun saat semuanya sudah selesai. Tidur agar aku tidak perlu menghadapi semua rasa takutku. Tidur agar aku tidak perlu melalui waktu yang ingin kuhindari. Pengecut, bukan? Itu sama saja lari dari masalah.

Oh, aku tahu. Aku ingin pergi ke tempat yang tidak berbatas waktu. Aku ingin terbebas dari himpitan waktu. Pernah merasa frustasi tidak dengan waktu? Kalau kalian bertanya padaku, jawabannya: pernah. Bahkan sering. Kenapa ujian harus dibatasi waktu? Kenapa tugas harus dibatasi waktu? Kenapa segala sesuatunya selalu dibatasi waktu? Oke, aku tahu aku pasti terlihat sangat konyol karena menanyakan hal-hal seperti itu.

Sial!
Aku membuang bantal yang kupegang dengan sembarang. Kesal. Aku kesal dengan diriku. Kesal dengan kebodohanku. Kenapa aku tidak pernah bisa belajar dari kesalahan?

Tiba-tiba saja aku teringat dengan pertanyaan yang terlontar untukku saat aku berkunjung ke rumah kerabatku hari raya taun kemarin.
“Udah semester  tujuh, kan? Udah mulai nyusun skripsi doong?”
Aku hanya tersenyum kecil menanggapi pertanyaan budeku itu. “Doain aja ya, budee, semoga bisa cepet,” jawabku.

Otakku lalu kembali terngiang dengan pertanyaan serupa yang kudapatkan kemarin. Pertanyaan dari seorang adik tingkat yang kebetulan menumpangi bus yang sama denganku.

“Berarti Kakak udah mau lulus ya?”
Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum. “Seharusnya sih begitu,” tukasku dalam hati.
Bukan hanya dari mereka berdua pernah kudengar pertanyaan semacam itu. Apa itu pertanyaan wajib untuk mahasiswa tingkat akhir sepertiku?

Pertanyaan-pertanyaan itu membuatku tersadar. Ternyata waktu berjalan begitu cepat. Rasanya belum lama aku lulus SMA. Rasanya seperti baru kemarin aku menjadi mahasiswa baru. Namun, lihatlah sekarang! Sudah ada tiga angkatan yang menjadi adik tingkatku. Hehe..
Ya, waktu terasa berlalu dengan cepat. Sangat cepat. Kata Eddi –salah satu teman STM-ku–, jika kita merasa waktu berjalan terlalu cepat, tanyalah pada diri kita sendiri, apakah kita yang berjalan terlalu lambat?. Ah, dia benar! Selama ini aku memang berjalan terlalu lambat. Bodohnya aku karena tidak menyadari bahwa waktu tidak pernah bisa menunggu. Tidak ada kesempatan yang diciptakan untuk orang-orang yang lamban. Kesempatan ada untuk mereka yang berani dan cepat.

Aku menarik napas panjang. Suasana gelap ini membuat banyak hal berkelebat dalam pikiranku. Aku teringat dengan masa-masa yang telah aku lewati selama tiga tahun masa kuliahku. Semester-semester awal yang menyenangkan, serasa tanpa beban. Tidak kuduga sebelumnya bahwa waktu yang kuhabiskan dengan bersantai dulu harus dibayar dengan waktu yang sekarang terasa begitu menghimpitku.

Setelah cukup lama bergeming di tempat, aku bergerak memeluk kedua lututku. Rasanya dingin. Sejak tadi aku memang duduk di lantai kamarku yang hanya beralaskan karpet yang tidak terlalu tebal. Listrik masih padam dan jujur saja aku tidak menyukai gelap. Itu yang membuatku malas beranjak ke tempat tidur dan memakai selimutku. Mungkin sudah setengah jam lamanya aku dalam posisi dudukku sekarang. Duduk menghadap laptop yang tadi baru saja akan kunyalakan sesaat sebelum listrik tiba-tiba padam.

Aku menghela napas. Entah ini yang keberapa kalinya. Bagus sekali, pekikku dalam hati. Bahan presentasi besok pagi yang belum kubuat, proposal penelitian yang masih ada di awang-awang, dan satu lagi: cerpen untuk sebuah lomba yang deadline-nya besok sebelum pukul tiga sore. Semua itu menunggu untuk kukerjakan.

Kenapa harus malam ini?
Oke, itu pertanyaan yang sangat bagus.
Sekali lagi kukatakan, aku tidak pernah bisa belajar dari kesalahan. Selalu saja mengerjakan sesuatu di saat mendesak. Selalu saja seperti itu. Bodoh! Aku juga tidak tahu kenapa ide selalu datang di saat waktuku sudah hampir habis.

Sekarang, katakan padaku, apa yang bisa kulakukan di saat listrik padam seperti ini? Laptopku tidak menyala, baterai lemah. Begitu juga dengan handphone-ku yang tidak sempat ku-charge tadi. Malangnya, semua pekerjaanku malam ini harus kuketik.

Pasrah. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Mungkin ini peringatan bagiku. Peringatan bagi orang bodoh yang sudah terlalu sering menyiakan waktu. Peringatan untuk aku yang sudah terlalu banyak membuang kesempatan.
Menyesal?

Tentu saja iya. Di saat seperti ini, pengandaian-pengandaian bodoh terus saja mencuat dalam benakku. Andai dulu aku begini, andai dulu aku begitu. Ah!
Namun, sudah pasti penyesalan itu sama sekali tidak berguna. Sebesar apa pun penyesalan yang ada sekarang, tetap saja itu tidak bisa mengembalikan waktu yang sudah kusiakan. Bahkan Doraemon dengan mesin waktunya pun tidak bisa membantu karena sayangnya ia hanya ada dalam komik.
Satu hal yang terus berusaha kuyakini saat ini adalah selalu ada alasan atas setiap hal yang terjadi. Ada skenario yang Tuhan mainkan yang seringkali butuh waktu yang tidak sebentar untuk memahami itu.

Baiklah, sekarang aku sangat lelah. Lelah dengan semuanya. Lelah karena rutinitasku yang padat setiap harinya. Lelah karena tugas yang menumpuk itu. Lelah dengan ketakutanku akan apa yang terjadi besok. Lelah dengan diriku.

Aku ingin tidur. Seperti yang kubilang tadi, aku ingin tidur dan terbangun saat semuanya sudah berlalu.
Jarum jam dinding di kamarku tepat menunjukkan jam tiga. Aku terkesiap. Aku kembali mengerjap-ngerjapkan mataku. Aku lalu memandang berkeliling. Terang. Sudah terang. Aku ingat sebelum mataku terpejam tadi kamarku masih gelap karena listrik padam.

Aku pasti tertidur. Jam baru menunjukkan setengah jam sebelum tepat tengah malam terakhir aku melihatnya sebelum kamarku gelap. Entah jam berapa lampu kamarku kembali menyala tadi. Aku tidak peduli. Aku bergegas menyalakan laptopku dan men-charge handphone-ku. Aku masih punya waktu satu jam lebih sebelum aku berangkat jam lima pagi nanti.

Aku mulai dengan proposal penelitianku. Ini yang terpenting bagiku saat ini. Proposal penelitian yang merupakan langkah awal perjuanganku untuk lulus kuliah. Slide untuk presentasi jam sepuluh nanti akan kusiapkan di pergantian jam pertama dan kedua. Cerpen akan kubuat saat istirahat makan siang nanti. Aku tinggal menuliskannya saja, ide sudah ada dalam otakku.
Aku tahu ini terlihat sangat buruk. Semoga tidak ada yang mencontohnya.

“Bismillahirrahmanirrahim”. Aku memulai rencanaku. Aku tahu mengerjakan sesuatu dengan tergesa seperti ini bukanlah sesuatu yang baik. Namun, mau bagaimana lagi. Toh aku tidak bisa kembali ke masa lalu untuk mengulang waktuku dan mengubah semuanya. Yang aku miliki sekarang hanyalah saat ini, saat yang masih bisa kuubah untuk memperbaiki masa depaan

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates